Thursday, December 29, 2016

BANJARNEGARA TETAPLAH SEDERHANA

Rr,taka-Hari ini saya bangun pagi dan menghirup segarnya kota Banjarnegara,ada agenda khusus hari ini yaitu membayar pajak ke SAMSAT kota Banjarnegara.Dengan motor Honda beat saya pacu menuju arah kota Banjarnegara.oh ya saya adalah warga Banjarnegara yang sehari-harinya bekerja di Karawang.Dan sekarang saya sedang menikmati masa liburanku di kota kelahiranku Banjarnegara.
     Singkat cerita sampailah diparkiran SAMSAT kota Banjarnegara,petugas parkir menyapa dengan senyum dan bahasa yang ramah "punten mas bade mbayar pajeg nopo gesek mesin,menawi bade gesek mesin monggo geseke teng terminal rumiyin''.deg..senang rasanya disapa ramah seperti itu.Lanjut menuju tempat formulir pendaftaran disana saya melihat orang tua yang dibantu oleh sesama pembayar pajak dan dengan senang hati membantu mengarahkan bapak itu menuju loket pengambilan formulir.Saya memperhatikan ketika mereka berbicara mereka menggunakan bahasa kromo yang terdengar adem ditelinga.Berikutnya saya menuju loket pembayaran pajak,ada satu moment dimana membuat hati saya bergetar yaitu dimana bapak polisi melayani para pembayar pajak dengan candaannya saya lihat ada ketulusan disana.Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah sebuah perbandingan,saya menghabiskan banyak waktu dewasa saya di perantaun dari Jakarta ke cikarang lanjut ke karawang sudah kenyang saya menikmati lingkungan dan atmosfer perantauan.Hal itu yang membuat saya mampu membandingkan dan sensitif merasakan perbedaaan.perbedaan antara suasana di kampung dan di perantauan.Lalu lintas yang macet,bertemu orang-orang dengan segala kepenatan yang terpancar dimuka mereka,orang-orang yang ingin serba cepat tapi tidak mau antri.Orang-orang yang semaki kehilangan respect kepada sesama,orang-orang yang rela saling sikut demi sebuah jabatan.Kota bermuka dua,satu sisi bangunan megah tapi dilain sisi selokan mampet,sampah menumpuk.kota yang sangat kontras perbedaan antara si miskin dan si kaya.Semua saya temui di perantauan.Dan ketika saya pulang ke Banjarnegara,seakan ada harapan bahwa belum saatnya dunia kiamat,ada hembusan angin yang seakan berbisik ''belum saatnya semuanya berakhir''.ya Banjarnegara memberikan harapan sebuah kehidupan yang ramah,saya ingin Banjarnegara tetap seperti ini,saya tidak ingin Banjarnegara dimasuki investor-investor dimana membuat Banjarnegara separti Bekasi,Jakarta,atau Karawang.Saya ingin Banjarnegara tetap sederhana,tetap Gilar-Gilar,tetap ramah.bukan Banjarnegara yang penuh dengan kesibukan yang membuat masyarakatnya kehilangan respect terhadap sesamanya.Saya tetap ingin Banjarnegara dengan banyak pohon-pohon rindangya,banyak sungai bersihnya,banyak gunung-gunung hijaunya,Banjarnegara tanpa limbah industrinya.dimana masyarakatnya tidak diperbudak oleh uang dan tetap ramah kepada sesamanya dan kepada limgkungannya.

     Biarlah saya nanti pergi lagi merantau,dan tetaplah menjadi Banjarnegara yang selalu ku rindui.Dan pasti aku akan kembali menemuimu dan memandang indah alammu.

0 comments:

Post a Comment